Bendera Tauhid atau Bendera HTI, Mengapa Dibela atau Dihina?

Oleh: Gusti Rahmat (Pemimpin Redaksi sahabatrakyat.com)

Polemik berkepanjangan terkait bendera yang bertuliskan kalimat tauhid atau bendera HTI telah menyita banyak waktu bagi pembela masing- masing bendera tersebut. Rentetan kejadian terkait bendera tersebut diantaranya adalah masuknya seseorang yang membawa bendera kedalam kegiatan Hari Santri di Garut dan kemudian terjadi pembakaran bendera oleh salah satu ormas.

Selanjutnya adalah aksi bela bendera yang bertuliskan kalimat tauhid yang dilakukan oleh pendukungnya. Dan terakhir, diperiksanya Muhammad Rizieq Shihab karena pemasangan bendera yang bertuliskan kalimat tauhid di rumah yang ditempatinya saat ini di Arab Saudi. Yang kemudian diakui bukan dirinya yang memasang. Dugaan redaksi, drama ini tentu tidak akan berakhir sampai disini.

Bagi ormas yang membakar bendera, mereka meyakini bahwa bendera yang mereka bakar adalah bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang notabene adalah ormas yang telah dibubarkan oleh Pemerintah Republik Indonesia. Sedangkan bagi yang membela, menurut mereka bendera yang dibakar adalah bendera Rasulullah SAW. Sehingga wajib dibela apapun resikonya. Yang menjadi masalah adalah ketika dua kelompok yang bertikai tersebut tidak menyadari bahwa isu tersebut bisa jadi sengaja dimainkan oleh kelompok yang menginginkan bangsa ini terus bertikai dan akhirnya akan berdampak pada disintegrasi bangsa. Ketika masing-masing kelompok tetap bersikeras terhadap apa yang diyakini maka kemungkinannya adalah salah satu dirugikan atau dua-duanya akan hancur. Atau setidaknya luka bekas gesekan antar anak bangsa akan terus menjadi luka sejarah yang akan sangat merugikan bagi keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kebebasan menyampaikan pendapat adalah suatu yang wajib diberikan kepada setiap warga negara. Tentu saja, kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan yang tidak melanggar Undang-Undang. Boleh saja dua kelompok tersebut mengklaim paling benar tapi harus diyakini bahwa apa yang diperjuangkan bebas dari kepentingan pihak ketiga yang menginginkan kegaduhan terus menerus antar anak bangsa. Lagi-lagi dipertegas, tantangan terbesarnya adalah jangan sampai kegaduhan terkait bendera menjadi cikal bakal disintegrasi bangsa.

Kedua belah pihak harus menahan diri. Pihak yang meyakini bendera tersebut adalah bendera organisasi terlarang sebaiknya menyerahkan urusannya kepada pihak yang berwenang sehingga terhindar dari perbuatan main hakim sendiri. Begitupun bagi kelompok yang meyakini bahwa yang dibakar adalah bendera bertuliskan tauhid, sebaiknya menyerahkan pula urusannya kepada pihak yang berwenang. Kalaupun ada keinginan menjadikan bendera tersebut sebagai komoditas politik dan diperkirakan akan menguntungkan kelompok tertentu maka sebaiknya dikalkulasi ulang dampaknya.

Akhirnya, menurunkan sedikit egoisme kelompok dalam menyikapi polemik bendera adalah pilihan terbaik agar bangsa ini akan terus ada dalam perdamaian. Salam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here